Showing posts with label Naskah Drama. Show all posts
Showing posts with label Naskah Drama. Show all posts

Thursday, September 13, 2007

DAJJAL

DAJALL
Karya : Bayu Murdiyanto

(Tak satupun orang berada di panggung yang terlihat aneh itu, hanya ada sosok dajjal yang terduduk di kursinya)

Dajal : Bukankah sudah kukatakan kepadaMu, bahwa aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan aku mengetahui apa yang Kamu nyatakan dan Kamu sembunyikan ? (mulai terbahak sambil terus berbicara) ha..ha..ha.. disuruh-Nya aku bersujud kepadaMu? lagipula bukankah aku memang diciptakan sebagai makhluk pengacau? Lalu untuk apa aku harus bertertib seperti yang kau kehendaki atau berlaku seperti cecunguk – cecungukMu itu yang ada di dunia. Aku akan menunggu itu… yah… ha..ha..ha.. dengan berwarna kedok akan kurubah diri semauku dan masa itu akan kubuat kacau… selama ini aku belum saja menunjukan semua kemampuanku semenjak utusan terakhirmu ada. Aku tidak akan pernah mau tunduk pada pimpinan cecunguk – cecunguk itu. Aku tercipta dari api, sedangkan dia diciptakan dari tanah, jadi apa alasanku untuk harus tunduk padanya? (berfikir…) Merubah warna air muka… ? ini tepat sekali, aku sudah harus memikirkannya sedari waktu ini. Aku harus bertindak sempurna sebelum mahdi – mahdi itu mulai turun membantaiku. (melihat tubuhnya dan seketika itu pula ia mulai merasa jijik dengan tubuhnya) kacau … buruk sekali bentukku… hhheeii… sekalipun dicipta dari api berwujud buruk ini, aku tidak mulai menjadi gentar untuk menjalani tugasku (sambil menunjuk ke arah atas). Jadi akupun tak akan pernah mau mengakui pimpinan cecungukmu itu bahwa ia lebih baik dari diriku. Mungkin jika aku mengelabuhi dengan menyerupai cecunguk itu aku akan dapat lebih merajai mereka sekehendakku. Tugasku hanya untuk membuat mereka menyamarkan ayat – ayat itu dan aku… akan mendapat bala yang lebih, selain para iblis dan setan. Hehh bukannya aku sudah cukup mempunyai banyak bala dari spesies yang sama sepertiku, jadi aku memang membutuhkan cecunguk – cecunguk itu untuk menemaniku di neraka.. ha.. ha.. ha.. aku sudah harus mulai berfikir…(berputar – putar dan terus bingung mencari ide) tidak… apa mungkin?… sudah tidak begitu.. lalu apa?.. perduli!… bodoh!!.. mana mungkin?.. heh mana mungkin..? (menemukan sesuatu di dalam kepalanya) kenapa tidak?… hehehehe (tertawa geli) kenapa tidak kucoba… bukankah ini seperti godot… apa salahnya mencoba… baik… baik. (masuk ke dalam panggung).

Banci : (masih dengan suara lelaki) hahaha… bukankah ini tepat…? Sekarang tuhan sudah menjadi wanita kan?… lalu kenapa aku tidak mencoba berpenampilan seperti tuhan saat ini…hahaha….hei…(berfikir) apa suara tuhan juga seperti ini ?.... tidak… mana mungkin fisikku tak sesuai dengan pita suara…? Begini…(masih terdengar besar)… bukan… begini (mulai terdengar lebih lembut) ahhh… masih kurang. Begini… ya.. ya.. hampir. Begini (genit dan secara tiba – tiba saja suaranya menjadi falsetto) nah dengan suara seperti ini tubuh dan suaraku akan lebih sinkron. Ahhh (genit) rupanya menggunakan tubuh ini terasa tak nyaman juga. Terasa lebih baik jika kugunakan tubuhku. Sudahlah, untuk apa aku mengeluh, bukankah ini semua demi konspirasiku… (terdiam sejenak memikirkan sesuatu) lalu taktik apa yang akan kugunakan dengan air muka seperti ini ya?(berfikir) ahh… bukankah taktik pembalikan akan menjadi sangat efektif untuk ku gunakan… baiklah akan kugunakan. Lalu jaman sekarang ini alat apa yang bisa mendukung taktikku…? (berfikir) Ahha… media.. tak bisa di pungkiri, bukankah tekhnologi penginderaan sudah kubuat untuk membantu konspirasi zionisku… hihihi… rupanya orang – orang sudah mulai terlena dengan bahan buatanku itu yang sebetulnya kebalikan dari semua yang ia kira. Ohh… bukannya wanita selalu saja berdandan, kenapa tidak kucoba… untuk menyiapkan segalanya… hihihi…. (mengambil alat dandannya dan langsung mulai berdandan) dengan begini aku akan menjadi pemujaan sebagian dari cecunguk – cecunguk itu dan sudah jelas mereka yang sebagiannya lagi akan mengikutiku dan akan menjadi bagianku semua sebagai keberhasilan konspirasiku. Dan takhnologi penginderaanku akan kukembangkan lagi, dengan begitu mereka akan semakin tergantung dengan alat itu. Mereka akan mengerti bahwa alat itu adalah bagian kecil dari kecepatanku, aku bisa menjangkau barat ke timur dengan mudah. Baiklah akan mulai kukembangkan lagi alat itu. Lalu apa kaitannya dengan tubuhku sekarang….? Hah bodoh… aku harus berpikir….kenapa aku membuat hal yang tak berkorelasi… (berpikir) bukan…. Tidak juga… mestinya bisa tapi tak kuat… apa ya…??? (mulai mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri) Ahha… hihihi. Aku akan menciptakan sebuah style. Ya… trand center bukan….? Sebagian dari cecunguk – cecunguk itu akan memujaku jika air mukaku bisa membuat sebagian dari mereka bergairah. Hihihi… (berdandan lagi) dengan begini akan kutundukan dan kukuasai dunia karena sebagian dari cecunguk – cecunguk yang memujaku akan semakin tidak memahami dan mematuhi aturan nikah lagi, mereka akan semakin menggilaiku dengan wujudku ini mereka akan semakin menjadi buta akan hokum perjinahan dan yang terpenting mereka akan menggunakan alatku, sehingga konspirasiku akan semakin cepat mendekati keberhasilan. (pause) Ahhh…. Tapi kurasa aku tidak bisa hanya mengandalkan hal ini saja. Aku harus mencari jalan lain lagi sebagai alternatif untuk mempercepat gerakan konspirasiku. Aku akan merubah air mukaku lagi tapi apa ya… tekhnologi penginderaan sudah kukuasai…. Aku harus membuat sesuatu yang lain selain mengandalkan kecepatanku. Aku harus merubah air mukaku lagi dan melakukan perubahan taktik lain. (masuk ke balik panggung).

Ulama : Hihihi…. Sudah kurubah wujudku… tubuh ini sedikit lebih nyaman kupakai karena aku bisa lebih leluasa dalam berkamuflase (dengan suara falsetonya) hei kenapa suaraku masih seperti tadi… ehm.. ehm.. (mulai mencari suara awalnya). Baiklah… lalu apa yang akan kulakukan dengan tubuhku yang sekarang? (berpikir) Ya… kurasa ide ini cocok dengan tubuhku yang sekarang. Dengan tubuhku sekarang aku akan mulai meretakkan sendi – sendi agama. Baiklah dengan tubuhku yang sekarang ini, aku akan menciptakan berbagai sekte, okultisme, mistik dan aliran kebatinan sebanyak tiga puluh. Aku rasa dengan jumlah itu sudah cukup untuk menghancurkan sendi agama. Di dunia ini ada lima agama, dan setiap agama akan kubuat beberapa sekte. Dan cecunguk – cecunguk itu akan kubuat percaya dengan segala tipu muslihatku. Hahaha…. Mereka akan menjadi tidak berdaya karena mereka akan mempercayai apa yang sebenarnya mereka kira salah sebelumnya. Kurasa konspirasiku akan menjadi semakin lengkap. Setidaknya mereka akan mulai mempelajari hal – hal yang sepatutnya mereka lakukan untukMu (sambil mendangak ke atas) mereka akan mulai mempercayaiku dan mulai menyamarkan ayat – ayatMu. Lalu apa yang akan ku mulai pertama kali untuk memulai konspirasiku dengan tubuh baruku ini…??? oh mungkin aku akan menghalalkan beberapa hal yang mereka haramkan sebelumnya dan akan kubuat mereka mempercayai hal – hal mistis…. Lalu mereka akan mulai mempercayai datangnya Ratu Adil, Nyi Roro Kidul, Raksasa Bermata Satu, Naga, dan segala jenis makhluk yang mengerikan, sebagaimana film-film horor yang banyak beredar dan ditonton tanpa daya kritis. Hal ini akan memasuki syaraf para cecunguk – cecunguk itu sehingga mereka merasa bahwa drakula, hantu, kuntilanak, jurig, dedemit, dan segala macam tahayul yang bercampur-baur antara menyan dan mantera menyebabkan cecunguk – cecunguk itu menjadi musyrik dan kufur. Mereka akan kubuat untuk tidak akan tunduk dan mempercayai ayat – ayatMu. Lalu konspirasiku mulai mendekati hasil yang terang. Hahaha….. aku memang sudah melakukan hal ini sejak utusan terakhir itu ada. Aku sudah membuat adanya banyak perbedaan yang ternyata sekarang justru mereka syukuri. Mereka mulai mengindahkan kebersamaan dari hal yang berbeda itu. Dan aku juga sudah menciptakan perbedaan yang cukup banyak sehingga setidaknya akan ada kekacauan dimana – mana, lalu mereka akan menjadi sulit untuk bertandang. Hahaha… akulah dajjal… akan kukuasai dunia. Hei tapi bukankah akan lebih baik jika aku melakukan perubahan air muka lagi. Ya..ya..ya.. kali ini aku punya ide yang lebih brilliant. Aku akan menjadi…. Ah sebaiknya kurubah dulu air mukaku. (masuk ke dalam panggung).

Penguasa : oho…. Hehehe. Hfuh. Akhirnya dari semua perubahanku, inilah yang membuatku merasa nyaman kurasa perubahanku yang kali ini akan meuniversalkan semua konspirasiku dan tentunya akan lebih menyamarkan lagi semua yang kulakukan, sehingga cecunguk – cecunguk itu tidak menyangka dan menduga lagi apa yang akan kuperbuat. Ternyata aku memang bisa untuk mencampuri segala persoalan para cecunguk itu dan mulai menguasai dunia dengan leluasa. Kurasa aku akan lebih dulu menguasai dunia sebelum nanti akhirnya mahdi dan isa datang untuk membantaiku. Tadi aku sudah mulai menghancurkan cecunguk – cecunguk itu melalui tekhnologi penginderaan, lalu kuhancurkan moral mereka dengan menjadikan wanita sebagai tuhan, selanjutnya kuhancurkan sendi – sendi agama mereka dengan membuat berbagai macam sekte, okultisame, mistis, dan kepercayaan kebatinan sehingga mereka akan mulai memurtadkan diri mereka kepada tuhannya. Dan aku akan menjadi kisah firaun dengan akhir yang membahagiakan karena aku sudah akan menguasai dunia sebelum isa menghancurkanku. Jadi kurasa tepat tubuh ini menjadi akhir perubahanku untuk menguasai dunia. Aku akan membuat segalanya berubah menjadi instant dan cecunguk – cecunguk itu akan terlena dengan apa yang sudah kuperbuat sehingga misi konspirasi zionisku akan segera berhasil. Bukankah aku sudah memegang penganut yahudi yang selama ini sudah menjadi pengikutku. Mereka sudah mulai menjalankan sebagian besar rencanaku dan kini aku akan mulai merambah para penganut goyim. Aku mempunyai banyak bukit roti dan sungai air yang semakin berkembang. Sebagian penganut goyim sudah kuambil sumber dayanya dan ini akan membuat bukit rotiku dan sungai airku semakin berkembang. Kurasa dengan hal itu aku akan menghemat sumber dayaku, dan ketika sumber daya para goyim ini sudah mulai habis maka akulah yang akan memegang tampu kekuasaan dunia ini sebelum isa mulai menjemputku. Hahaha…. Hei tapi apakah cukup aku melakukan perubahan sampai di sini saja. Ahhh… aku tidak cukup puas dengan yang ini – ini saja. Lagipula hari itu belum juga datang dan aku tidak mengetahui kedatangannya. Hei mengapa Kau tidak memberi tahukan aku akan hal itu? (sambil mendongak ke atas) aku rasa jika aku mengetahui kapan kedatangan hari itu akan mempermudah tugasku… lalu sekarang apa yang bisa kulakukan hanya menghayal dan menjadi utopis yang terbaik? Bajingan…. Tapi memang bukankah dari tadi aku hanya menjadi utopis… hahaha (tertawa geli) rupanya aku baru saja berhayal… sebaiknya kulanjutkan khayalanku agar semua rencanaku bukan cuma sebuah rencana tanpa hal nihil. Hah sudahlah mungkin aku butuh kesegaran dan ide yang lebih baik lagi.


Purwokerto, 1 Juni 2007, 00.10 WIB

Carikan Aku Massa

Carikan Aku Masa!!

Semua orang bisa sibuk rutinitas namun tidak bagi orang yang menungggu, sedangkan orang yang mencari waktu bisa disamakan dengan rutinitas meskipun dengan hasil yang belum tentu.


keluar dari panggung bersamaan dan mulai berdialog dengan keadaan tubuh yang sangat lelah. Di sudut panggung lain berdiri wanita yang gelagatnya sedang menunggu sesuatu namun tidak memperdulikan mereka.
Paijo : Sampai dimana kita wan?
Juan : Aku belum tahu jo, yang jelas ini kota.
Paijo : taunya?
Juan : Apa kau buta? (bertanya kesal tapi tak kuat untuk marah karena lelah)
Paijo : tidak….(menjawab dengan inosent)
Juan : Kau tidak liat, daerah ini ramai sekali dan itu (menunjuk ke sudut arah) itu kan alun-alun jadi apa bisa di cakap desa?
Paijo : ohh jadi kita ada di kota. Kota apa kira-kira?
Juan : kau ini tuli atau goblok?? (mulai kesal) aku tadi sudah bercakap kepada kau, aku belum tahu, tapi yang jelas tujuan kita adalah Jogja dan arah kita ini benar. Yah kurasa kalau bukan Banyumas, Kebumen, atau mungkin Bali.
Paijo : mungkin kita ada di Bali, menurutmu?
Juan : sudah kucakap, mana tau…!!! Lagipula apa kalau kita hendak ke Jogja, kita harus melewati Bali? Tau dari mana kau kalau ini Bali?
Paijo : kok nanya?
Juan : lah kau…?
Paijo : kau? Kau apa?
Juan : Kau kan tadi cakap padaku, kalau kita ada di Bali.
Paijo : ohh itu. Iya. Kita berangkat dari Ibu Kota, tadi kita naik bis dan kondektur menurunkan kita karena kita disangka orang gila dan mengganggu penumpang. Padahal kita tidak minta-minta, mencopet atau malah merampas milik orang. Kenapa kita mengganggu ya? Lalu tadi aku bilang kita ada di Bali. Aku hanya menduga saja wan!!!
Juan : yah aku juga masih geram dengan kondektur bajingan tadi, kita ini seniman, dia bilang perusuh. Memang dia pikir kita copet, meskipun tadi aku sempat melirik dompet orang yang ada di depanku. Alah tidak penting lah dugaan kau itu. Yang terpenting sekarang kita tanya orang itu barangkali dia tau kita dimana! (sambil menunjuk wanita cantik di depannya)
Paijo : jangan!!! barangkali dia gundik wan, habis kita nanti masuk perangkapnya. Bukankah duitmu Cuma ongkos. Mau naik apa kita nanti pulang?
Juan : tau darimana lagi kau kalau dia lonte? Sudahlah tak usah berburuk sangka. Nanti aku pula yang kau bikin susah.
Paijo : ya sudah terserah kamu saja.
mereka berjalan mendekati wanita cantik itu yang sejak tadi berdiri di pinggiran trotoar namun belum dekat benar juan menarik paijo untuk berhenti.
Juan : kau yang bertanya! Aku sudah membantu kau mencari ide.(pause) Itu sulit bagi kau kan…karena otak kau itu hanya ada sampah dan pikiran kotor, jadi tidak mungkin kau memiliki ide seperti aku ini.
Paijo : he..he..he..he. benar juga kamu, tapi aku tidak tau apa yang mesti aku tanyakan…
Juan : Dasar benga kau… dari tadi kita ini meributkan persoalan posisi kita sekarang kenapa malah sekarang kau bingung mau bertanya apa…
Paijo : oh iya. Baiklah aku bertanya padanya… (mendekat ke arah wanita tersebut)
paijo berjalan mendekati wanita berpakaian seronok itu, tampaknya wanita itu masih cukup muda.
Paijo : Mba…! (terdiam sejenak karena tak ada respon dari lawan bicaranya) Ses…!(diam lagi) Non…! Atau apa sajalah. Bisa saya bertanya sama sampeyan? Saya dan kawan saya yang di sana itu (menunjuk juan dan juan menjadi gerogi bercampur takut karena merasa di tuding oleh tunjukan Paijo) hendak ke Jogja. Mba tahu Benteng Van Den Berg? Kira-kira di mana arah tempat itu? Kami bingung (pause) oh iya satu hal lagi, ini daerah apa? Namanya apa? Jauh tidak untuk menuju tempat yang saya tanyakan tadi?
Wanita : (tersenyum manis lalu mencerna pertanyaan paijo) hauaelablaalaablaajaacha……..
Paijo : (bingung) wah rupa-rupanya orang ini bisu. Kalau begini percuma saja saya bertanya pada orang bisu. (kembali ke arah Juan)
Juan : Bagaimana jawaban wanita itu? Dia lonte? Lalu kemana kita harus jalan?
Paijo : Percuma wan… nihil. Kupikir dia gundik, kupikir juga dia bisa menjawab pertanyaanku, nyatanya bahasanya tak kumengerti.
Juan : agghhh… bodoh kali kau ini… bisa kau apa? Benga… di suruh bertanya seperti itu saja tak bisanya kau dapat hasil. Berlagak tak tahu bahasanya lah. Cakap saja kau tak pandai bertanya. Biar aku yang maju…(menuju wanita itu)
Juan : Maaf mba tadi teman saya bertanya pada mba mengenai arah ke Jogja, tapi dia tidak mengerti katanya. Dia memang benga… bisa saya tahu, kemana saya dan kawan saya itu pergi jika kami hendak ke Jogja? Tepatnya Benteng Van Den Berg?
Wanita : (Senyum manis sejenak) huaalaablaaacha dahaabahaaagyagyagya (terus mengoceh)
Juan : (bingung, menggaruk kepalanya lalu menuju ke arah Paijo) mengapa tak kau katakan sejak tadi kalau dia bisu?? Bingung aku dibuatnya dan tak tahu lah dia cakap apa.
Paijo : Aku belum selesai bicara eh lah kamu nyosor saja dengan wanita itu. Jadi salah lagi aku? Lalu bilang apa wanita itu tadi? Huaachablabkablagyagyagya (menirukan suara wanita itu).
Juan : sialan kau… meledek pula kau bisanya. Lalu bagaimana kita sekarang? sudah lelah aku. Tak tahu pula mesti berjalan kemana.
Paijo : Bagaimana apanya? Bukankah memang kita sudah tersesat dan tak tahu ada dimana… seharusnya kita berpikir kemana kita berjalan bukan bagaimana…
Juan : Tuhan…. Sudah kau siksa aku dengan keadaan ini, masih saja ada orang seperti dia yang menemaniku menjalani keadaan ini makin tersiksa aku Tuhan….
Paijo : Wah kamu benar sebaiknya kita berpasrah pada Tuhan. Pintar juga temanku ini.
Juan : Suka-suka kau saja lah… tambah pusing saja kepalaku kau buat. Baiknya sekarang istirahat saja dulu. Siapa tahu saja nanti kita butuh tenaga lagi.
Paijo : Betul itu, baiknya kita istirahat saja dulu, kakiku ini sudah mau remuk rasanya.
Juan : (mengeluarkan bungkus rokok dari dalam sakunya)
Paijo : Kamu punya toh wan. Minta aku. Rasanya getir sekali rasa mulutku karena sejak tadi tidak sebatang pun rokok yang aku hisap.
Juan : (memberikan sebatang rokok kepada Paijo lalu menyulut rokoknya sendiri yang sudah menempel di mulutnya) festival akan segera dimulai. Besok malam saja kita sudah mulai pentas, kalau sekarang kita masih tersesat seperti ini apa pula nanti yang akan terjadi. (berpikir sejenak) (pause) ha ha ha ha…. (tertawa tiba-tiba membuat Paijo takut karenanya) kenapa aku bisa jadi ikut bodoh seperti kau…
Paijo : Aku?
Juan : Iya, kau bodoh kan?
Paijo : Iya juga ya…
Juan : hahahaha (mulai terbahak keras dan tak lama Paijo mengikutinya) (pause) mengapa kau ikut tertawa? Apa yang kau pikirkan?
Paijo : Aku?
Juan : Ya, memang apa yang kau pikirkan?
Paijo : aku hanya ingin sepertimu, karena kamu tertawa ya aku ikut saja tertawa. Memang salah?
Juan : Dasar benga… aku tertawa karena aku menemukan suatu gagasan. Aku beralasan, mengapa aku tertawa tadi. (pause) begini, kita ini berada di kota bukan? Jadi aku rasa pasti akan ada plang atau tulisan apalah yang bisa menunjukan kita kalau kita ini sedang berada dimana.
Paijo : kamu liat?
Juan : apa?
Paijo : di sana ada kopi…
Juan : (matanya mencari-cari) mana?
Paijo : apanya?
Juan : kau bilang barusan?
Paijo : aku bingung.
Juan : kopi!!! (membentak)
Wanita : wuahadaagyafaratifakaaaa (berbicara pada juan dan paijo sambil menunjuk ke arah warung)
Paijo : bicara apa dia? Kau ngerti?
Juan : (menggeleng) maaf kau berbicara apa?(kepada wanita)
Paijo : ia apa maksudmu dengan wuahadaagyafaratifakaaaa?
Wanita : (tertawa lalu pergi dan mulai menyanyi)
Juan : apa dia gila? Atau kita yang gila? Atau aku mulai jadi sinting karena terus berada di sini?
Paijo : siapa yang gila? Kamu? Aku? Sepertinya dia?
Juan : aghhh… sudahlah tak usah banyak cakap kau, nanti gila aku kau buat. Terus mana?
Paijo : apanya yang mana? Wanita gila tadi? Hei tapi menurutku dia tidak gila, lagipula apa urusanmu dengan wanita tadi?
Juan : bukan wanita, tapi kopi.
Paijo : kopi?(pause) Oh iya..itu di sana (menunjuk ke depan)
Juan : itu warung, bukan kopi.
Paijo : memang, terus?
Juan : malah terus cakap kau… dari mana uang kita untuk membeli?
Paijo : dari dompet.
Juan : memang kau pikir dari jamban… yang ku maksud uang kita dari mana? Dompet kita kosong, Cuma ongkos benga…
Paijo : oh iya, aku lupa.(tertawa kecil, lalu ia mulai memainkan dasar dengan menggunakan potongan sedotan. Juan terus menghisap rokoknya lalu tiba-tiba tersedak-- Paijo bingung dan mencoba untuk menolong. Juan berdiri, batuk-batuk, duduk lagi lalu terlihat kesakitan di bagian dadanya, memukul-mukul dadanya, dan setelah itu tertawa gembira.)
Paijo : hahhh… kau gila??
Juan : (tetap tertawa) kau liat itu.
Paijo : apa?
Juan : (masih tertawa) itu (menunjuk ke depan)
Paijo : kopi? Jadi kita akan membeli kopi? Asik… (pause) tapi kau bilang tadi kita tak punya uang, Cuma ongkos, terus pakai apa belinya?
Juan : (mulai berhenti tertawa namun masih tetap terlihat gembira) bukan kopi. Kau perhatikan baik-baik tulisan yang ada di warung itu. Coba kau baca!
Paijo : itu? (memperhatikan sejenak, lalu mulai mengeja dengan keras) R..U..MAH M..A..KA..N BU..K..AR..TO.
Juan : bukan yang itu, bawahnya!! Coba baca!
Paijo : yang itu? (memperhatikan sejenak, lalu mulai mengeja dengan keras lagi) JA..LAN MA..LI..O..BO..RO, JOG…JA..KAR..TA. lalu?
Juan : berarti kita sudah berada di tempat yang benar.
Paijo : (mulai tertawa kecil lalu mulai terbahak) wah kau benar. Kita kan mau ke jogja.
Diam… lalu mereka tertawa lagi.
Juan : sudah-sudah sebaiknya kita tidak terlalu sering tertawa.
Paijo : nanti masuk angin
Juan : ya benar… sebaiknya--
Paijo : sekarang kita cari benteng van den berg.
Juan : kenapa kau jadi pandai?
Paijo : karena selalu bersamamu, mungkin aku tertular kebiasaan pandaimu.
Juan : syukurlah kalau begitu, aku mulai bosan dengan kebodohanmu.
Dari sisi panggung lain keluar laki-laki paruh baya yang menggunakan pakaian yang serupa dengan juan dan paijo
Paijo : ada orang
Juan : cepat Tanya orang itu!
Paijo : iya… (berjalan menuju orang tersebut) permisi pak… om…mas..atau apalah. Bisa saya bertanya? Saya dan teman saya itu (menunjuk juan, dan lagi-lagi juan takut Karena ulah temannya itu) sedang mencari-cari benteng Van Den Berg dan kami ini adalah seniman, begitu kata teman saya itu sih, lalu bagaimana cara saya untuk mencapai ke sana?
Laki-laki : maaf, apa?
Paijo : Saya dan teman saya itu sedang mencari-cari benteng Van Den Berg,
kami ini adalah seniman, bagaimana cara saya untuk mencapai ke sana?
Laki-laki : (tertawa terbahak-bahak lalu perlahan mulai mereda) kalian seniman?
Paijo : menurut gagasan teman saya itu benar.
Laki-laki : kalian seniman bodoh.
Paijo : kata teman saya, saya memang bodoh. Bagaimana bapak bisa tahu? Bapak cenawang?
Laki-laki : (tertawa terbahak-bahak lagi lalu mulai mereda) ternyata dugaanku benar (tertawa lagi dan kali ini paijo menirukan)
Paijo : sudahlah pak nanti kalau aku dan bapak terus tertawa bisa masuk angin, karena angin masuk dari lobang. Lobang apapun, jadi jangan membuat lobang di mulut, bisa masuk angin.
Laki-laki : (tertawa lagi dan kali ini tambah besar. Paijo mulai bingung) sudahlah sebaiknya kau sadar kau ini sedang berdiri di tempat yang kau maksud tadi. Kau pasti datang untuk mengikuti festival.
Paijo : (bingung, celingukan dan mulai sadar lalu tertawa) sudah kubilang kalau bapak ini cenawang. Buktinya bapak bisa tahu kalau tempat ini adalah tempat yang kumaksud. Ahhh bodohnya aku (tertawa lagi)
Laki-laki : aku bukan cenawang, aku ini seorang penyair, dan aku baru saja selesai mengikuti festival itu.
Paijo : selesai???
Laki-laki : apa kau tidak diberitahu oleh panitia? Acara itu dimajukan 2 hari. (tertawa lalu meninggalkan paijo)…

BLACK OUT

bayu murdiyanto